Sebuah karangan dimulai dengan sebuah ide atau beberapa ide yang
kemudian digabung menjadi satu. Ide-ide tersebut dapat diperoleh dari
membaca buku dan membaca apa yang ada di sekitar kita.
- Membaca buku
Dengan membaca langsung, banyak yang bisa kita ketahui dan pelajari .
dari hal yang paling sederhana sampai hal yang paling rumit. Misalnya
bila kita membaca novel, kita bisa mengetahui hal sehubungan dengan
tokoh utama dan sampingan, waktu dan tempat kejadian, peristiwa atau
permasalahan.
- Membaca apa yang ada di sekitar kita
Coba perhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Sebuah kejadian
atau percakapan orang-orang yang ada di sekitar kita. Dari sesuatu yang
yg sedang hangat-hangatnya dibicarakan atau istilahnya yanag sedang nge-
trend
sering mendorong munculnya sebuah ide cerita bahkan beberapa ide
sekaligus. Hingga kemudian kita dapat menciptakan tokoh yang
‘benar-benar hidup’ karena di dunia nyata contoh orangnya memang ada.
- Mencatat poin-poin penting
Jika memiliki daya ingat yang tidak kuat, disarankan agar memiliki
catatan khusus, untuk mencatat ide cerita yang akan ditulisnya. Bersama
dengan ide cerita itu dapat disertai hal-hal penting lainnya yang
bersifat khusus yang mungkin nanti ‘wajib’ dimasukkanke dalam cerita,
tidak ketinggalan hal-hal kecil yang membuat ‘sreg’ untuk dimasukkan ke
dalam rencana karya.
Tulislah ide yang kita dapatkan dari bagian mana saja yang ingin kita
tulis, karena tidak semua orang dapat menulis karangan dengan membuat
kerangkanya terlebih dahulu. Jika perlu tulis sinopsisnya, kemudian
kembangkan. Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menulis yang
menurutnya mudah dan nyaman untuk dirinya.
Setelah kita menuliskan karangan secara tidak berurutan, pada bagian
ini kita gunakan untuk menyusun kembali apa yang sudah kita tulis.
Jangan takut utnutk membongkar pasang apa yang sudah kita tulis karena
tujaun dari menyusun kembali itu agar karya kita enak untuk dibaca.
Masukan dapat berupa saran dan kritik. Tujuan meminta masukkan adalah
utnuk mengetahui sudah baikkah tulisan yang kita tulis? Hal yang
penting utnuk diingat dan dicatat,bahwa karya yang ditujukan untuk
penerbit nantinya akan dibaca oleh banyak orang sesuai sasaran. Maka
dari itu, seharusnya kita membuat cerita yang bisa dipahami oleh mereka
yang akan menjadi konsumen kita.
Perbaikilah naskha yang telah kita tulis dengan memperhatikan :
1. menggunakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
2. menyusun kalimat serta memperkaya perbendaharaan kata.
3. menggunakan istilah-istilah asing dan hal-hal kecil lain yang mungkin belum terpikirkan saat pertama kali menuliskannya.
Di zaman yang serba modern ini, sudah jarang calon penulis yang
menuliskan karyanya secara tradisional dengan menggunakan kertas dan
pulpen sepenuhnya. Banyak factor penyebab, salah satunya adalah bahwa
penerbit hanya menerima naskah dengan huruf cetak. Agar lebih
praktis,mereka menggunakan komputer. Namun, komputer juga memiliki
kelemahan, yaitu saat terkena virus atau rusak, data-data yang disimpan
terancam musnah. Buatlah salinan dari hasil ketikan tersebut.
Sebelum mengirimkan naskah kita ke penerbit, penting sekali untuk
mencari tahu bagaimana sebenarnya penerbit yang akan kita tuju. Karena
setiap penerbit memiliki ciri khas masing-masing dan tidak setiap
penerbit menerima jenis naskah yang akan kita kirim.biasanya setiap
penerbit mencantumkan syarat-syarat pengajuan naskah.
Syarat-syarat pengajuan naskah secara umum :
1. naskah merupakan karya asli, bukan jiplakan atau saduran.
2. naskah belum pernah dipublikasikan.
3. cerita tidak mengandung unsure SARA dan pornografi.
4. naskah diketik pada kertas ukuran A4 spasi 1,5 jenis huruf Times New Roman.
5. menyertakan biodata dan sinopsis.
Sumber : buku Nulis, Yuk! Novel Cerpen bagi Pemula karya M. Akmal
0 comments:
Posting Komentar